Pencurian Pulsa ‘si *****’

Sedih sekali rasanya ketika saya harus meng-update blog ini dengan hal yang justru menyedihkan dan bukannya kabar gembira, tapi apa mau dikata, saya akan menuliskannya agar jelas pokok permasalahannya.

Saya adalah pengguna provider terbesar di Indonesia, pra bayar, sejak 1 tahun yang lalu. Sejak awal pemakaian, saya bahkan sudah menggunakan paket BIS unlimited yang harga per paketnya dalam satu bulan mencapai Rp 99.000,-

Saya mulai menyadari soal pencurian pulsa ini tertanggal 9 (atau 10 November 2011? saya tidak ingat pasti), ketika saya gagal mengirim SMS, cek ke nomor pengecekan pulsa, pulsa saya tinggal Rp 50,-.  Saya kaget, karena baru dalam kisaran 1 minggu sebelumnya saya mengisi pulsa sebesar Rp 100.000, dan baru sekitar 3 hari sebelumnya saya cek pulsa saya masih di kisaran 70ribu sekian rupiah. Saya coba cek call history, sms…menurut saya tidak ada pemakaian berlebihan seperti menelpon berjam-jam atau sms berpuluh-puluh kali, lagipula, sms/telepon seperti apa yang sampai bisa menghabiskan 70ribu rupiah sekian? Lain cerita kalau saya di luar negeri ya. Saya coba cari tahu call center si provider, sampai dapatlah nomor***, yang sayang sekali saya telepon berkali-kali tidak diangkat. Saya menyerah, saya kemudian isi pulsa lagi sebesar Rp 100.000,- sehingga total pulsa saya pada hari itu mencapai Rp 100.050,-

Tertanggal 13 November 2011, pulsa saya di pagi hari mencapai Rp 96.000 sekian, tapi ketika saya cek di kisaran pukul sembilan, pulsa saya tiba-tiba turun menjadi  76ribu rupiah! Saya kaget! Karena saya tidak SMS atau telepon sama sekali, yang saya lakukan hanyalah membuka twitter dan website (website yang saya buka adalah yang sudah saya coba di hari-hari sebelumnya bahwa tidak terdapat pemotongan pulsa), saya akhirnya menelepon *** dan syukurlah kali itu diangkat, saya ikuti prosedural mereka, menyebutkan nama sesuai dengan saat pendaftaran nomor kartu, tempat tanggal lahir dan sebagainya. Saya laporkan bahwa saya kehilangan pulsa sebesar Rp 20.000,- pada tanggal 13 tersebut, selain itu saya laporkan pula perihal kehilangan pulsa 3 hari sebelumnya yang mencapai Rp 70.000,-. Oleh Call Service waktu itu, saya dinyatakan akan dibantu pembuatan laporannya dan akan segera ditindaklanjuti dalam 3×24 jam.

Tertanggal 16 November 2011, saya menelepon call service lagi, karena pada kenyataannya tidak ada tindak lanjut yang saya terima. Kali ini operator call service menyatakan bahwa laporan saya sebelumnya sudah masuk, dan memohon maaf  karena masalah tindak lanjut berada ‘pada bagian lain’.

Saya memang salah, sejak tanggal 20 November ke atas, saya tidak terlalu sering mengecek pulsa saya lagi, tapi yg saya bisa katakan sampai tanggal 20 tersebut, ‘tampaknya’ tidak ada pemotongan pulsa. Yang saya ingat, pulsa terakhir saya berkisar Rp 46.000

Tanggal 2 Desember, saya ke Jakarta (saya berdomisili di Sumatera Selatan dalam 6 bulan terakhir ini), saya akui saya banyak menelepon dan meng-SMS, tapi berapakah pulsa yang keluar tersebut? Mungkinkah mencapai Rp 46.000? Saya menelpon tidak pernah lebih dari 3 menit, bisa dibayangkan kan berapa pulsa yang seharusnya saya habiskan? SMS, saya akui banyak, tapi rasanya tidak mencapai  50 SMS yang bisa menghabiskan biaya Rp 17.500…..

Selama 3 hari di Jakarta, saya lengah, tidak memeriksa pulsa sama sekali, perkiraan saya..paling banter hanya Rp 20.000,-an lah….ternyata, 5 Desember, saat saya periksa….lagi-lagi pulsa saya Rp 50,-…..saya terdiam. Cepat saya telepon ***, alhamdulillah diangkat, saya tanyakan soal pulsa saya yang (lagi-lagi) hilang. Operator menanyakan berapa pulsa saya yang hilang, saya ingin menjawab Rp 40.000, tapi rasanya tidak etis, akhirnya saya jawab Rp 20.000, sesuai dengan perkiraan pemakaian pulsa saya selama dijakarta. Betapa terkaget-kagetnya saya ketika operator menyampaikan bahwa pulsa saya sejak 3 hari yang lalu sudah di bawah sepuluh ribu rupiah. Saya kejar, saya minta penjelasan….sampai akhirnya operator itu bilang bahwa pulsa terakhir yang ter-update di datanya pada 4 Desember adalah Rp 58,-….saya bengong, berarti ada Rp 8 yang hilang, ke mana? ?? Satu-satunya aktivitas yang saya gunakan pagi itu dengan blackberry saya adalah membuka twitter, dan bukankah twitter sudah masuk dalam layanan BIS unlimited.?

Saya cecar lagi operator tersebut, saya tanya bagaimana dengan laporan-laporan saya sebelumnya, di sini lah sesuatu terungkap. Entah keceplosan entah jujur, operator tersebut memberi tahu saya bahwa tertanggal 13 November 2011 memang terdapat ketidakstabilan pada pulsa saya, pulsa saya terkena tarif GPRS normal, ‘seharusnya tidak begitu’, saya masih ingat kata-kata operator tersebut. Saya tanya, apa yang dimaksud dengan ketidakstabilan tersebut, operator menjawab, bahwa pulsa saya terlihat naik turun dengan jumlah yang signifikan. Dikatakannya bahwa pulsa saya bahkan sempat mencapai lebih rendah dari Rp 76.000, tapi sempat naik kembali ke angka 80ribuan, namun kemudian turun lagi. Kali ini saya menyerah lagi, saya minta dibuatkan laporan, tetapi saya jadi sangat sering mengecek pulsa.

Perjalanan pulsa saya, sampai tanggal 11 Desember cenderung stabil, alias jelas ke mana hilangnya. Perlu saya tekankan di sini bahwa saya tetap menggunakan twitter dan website seperti biasa, dan saya bisa melihat bahwa tidak ada pulsa yang hilang. Sampai 12 Desember, seperti ini lah record manual pulsa saya:

11 des
12.01 16.050

12 Des
06.23 16.050
11.08 15.340
11.12 15.310
11.18 13.065
11.49 12.270
11.59 10.840 àrestarting HP, took off the battery
12.07 10.535
àwithout opening anything!
12.19 10.135
12.54 9.955
13.48 9.315
16.22 7.840 am sleeping!
16.25 7.720
16.48 6.380
17.03 6.320 sms
17.46 6.035 sms
17.58 5.585 sms
18.31 5.260 what?
19.46 3.180 what?
19.52 3.005
19.58 350
20.08 345

13 Des
16.34 50

Lihat perubahannya? Hari itu saya sampai 3 kali (4 kali malah!) telepon ke ***, pukul 11.20,  pukul  12.21 (yang kemudian diputus), pukul 12.26 dan pukul 20.15. Pulsa saya melesat! Jauh sekali dengan cepat, saya panik karena turunnya cepat sekali. Berkali-kali saya mengeluh tapi lagi-lagi jawaban operator adalah ‘akan kami laporkan, maksimal dalam 3×24 jam sudah ada tindaklanjut’ tapi tetap saja pulsa saya turun drastis. Mengenai pemotongan tersebut, si operator menjawab bahwa belum ada update di datanya, jadi tidak bisa menjawab.

Yang mengherankan adalah, saya mention official twitter si provider berkali-kali tapi tidak ada tanggapan, wajar kalau saya jadi ngamuk dan panik kan?  Yang juga lucu, saya lihat official twitter si provider memberikan saran cabut batere pada orang lain Sementara saya komplain berkali-kali tidak ditanggapi), ya sudah, saya cabut batere HP saya, berharap pemotongan pulsa berhenti, tapi sebelumnya saya cek pulsa dulu, pulsa sebelum baterai dicabut adalah: Rp 10.840. Saya cabut baterai tidak lama-lama, tapi semua pemakai blackberry (dan semua pemakai handphone di dunia) pasti sepakat bahwa itu sama dengan mencabut nyawa kan? Hasilnya? Pulsa ketika HP telah hidup kembali adalah Rp 10.535! Hilang ke mana Rp 305-nya??? Tidak sampai di situ…saya belum membuka apa pun kecuali twitter, saya pemakai socialscope..dan sebelumnya tidak pernah terpotong pulsa (paling tidak sejak saya pertama pakai, tidak ada pemotongan pulsa akibat socialscope)….lagi-lagi  hilang Rp 400, saya tidak tinggal diam, kalau lagi-lagi dibilang gara-gara streaming, saya tidak terima, ini saya baru saja restart HP!

Belum berapa menit saya bicara, sambungan diputus, sehingga saya telepon lagi dan diangkat oleh operator lain. Saya keluhkan hal yang sama dan operator menjawab bahwa laporan sudah dimasukkan, saya tidak mau diam, saya cecar dengan pemotongan pulsa yang terjadi, sementara si operator kekeuh bahwa belum ada update. Operator yang satu ini sempat bilang pula bahwa data akan update setiap pukul 13, dan bukannya memberi penjelasan dia malah ‘ngajarin’ saya tips biar pulsa saya tidak terpotong lagi. ‘ngajarin’ itu pun tidak sepenuh hati, tipsnya diberikan cepat naudzubilah, bahkan untuk mengetik pun saya tidak sempat, apalagi langsung dipraktekkan, emang bisa multifungsi? Yang sempat saya tangkap Cuma: uncheck WAPpush, yang langsung saya praktekkan. Kenyataannya? Lihat sendiri kan? Pulsa saya masih saja terpotong dengan lancarnya, sampai pukul 19.58 pulsa saya sudah menyentuh angka Rp 350!

Saya telepon lagi call service, berkali-kali, tapi tidak ada yang mengangkat! Dan baru diangkat pukul 20.15, saat itu pulsa saya sudah menyentuh angka Rp 345 (hilang lagiRp 5 yang saya tidak tahu sebabnya!), saya cecar, betulan ada tindak lanjutnya kah ini? Atau hanya sekedar pelaporan saja, STOP, no action? Operator tidak menjawab, tidak mendengarkan saya malah, dia malah memaksa saya mendengarkan dia yang kekeuh bahwa saya kena pulsa GPRS akibat streaming. Saya tanya soal record  pulsa saya karena SEHARUSNYA SUDAH ADA (kalau update-nya pukul 13) tapi lagi-lagi dia ngotot bahwa update itu tidak setiap waktu, tidak bisa ditentukan kapannya, tanpa menjawab record saya, intinya saya dan operator kali ini ngotot-ngototan soal record  pulsa. Saya tanya, ke mana pulsa saya, akhirnya operator ini menyerah (mungkin karena mendengar saya yang hampir menangis setelah teriak-teriak di telepon), dia menjawab….bahwa kewenangan dia hanya menjawab bahwa pulsa saya kena tarif GPRS normal, dia tidak bisa menjawab selain itu. Lemas, sebelum tidur saya cek pulsa tetap Rp 345,-

13 Desember,  saya tidak berani isi pulsa, takut pulsa saya hilang lagi, berkali-kali saya cek pulsa, tetap di angka Rp 345,-, padahal dengan pembukaan website yang sama seperti ‘ketika saya seharusnya terkena pulsa GPRS normal’, sampai  seperti tertera di atas….pukul 16.34…pulsa saya tiba-tiba Rp 50. Saya mau tanya, apa yang bisa anda lakukan dengan Rp 345? Telepon jelas tidak, SMS? Setahu saya tarifnya Rp 350, jadi ke mana hilangnya?

14 Desember, saya ke pusat pelayanan yang lokasinya saya tahu, sampai sana sekitar pukul 14.00, jawaban yang diberikan amat sangat membuat saya marah. Customer service beranggapan bahwa saya ‘pasti’ membuka video streaming dan berbagai website dengan ‘moving ads’, yang dia contohkan adalah detik.com. Saya kekeuh menjawab bahwa saya TIDAK pernah membuka website tersebut ( I’m not that FOOL!). Tapi tetap saja si mas-mas Customer Service menjawab bahwa saya terkena layanan GPRS normal yang tarifnya Rp5/KB, yang akan tetap update kalau saya belum tutup browser secara penuh, yang pasti saya bukanya secara tidak sengaja, yang ‘mungkin mbak tidak tahu kalau iklan dengan gambar bergerak-gerak itu kena pulsa’ yang jelas bikin darah saya mendidih. Semakin membuat saya sebal setengah mati adalah ketika saya ceritakan perihal cabut baterai, dan saya tanyakan, kenapa bisa hilang Rp 300,-, dengan santai dan TERSENYUM (sumpah, itu senyum menjijikkan sekali) mas-mas itu menjawab, bahwa saya pasti belum menutup aplikasi, yang, sumpah, membuat saya melongo heran pada keidiotannya. Akhir kata, setelah debat kusir yang membuat saya ingin muntah ke mejanya, dinyatakan TIDAK ADA PENGGANTIAN PULSA karena itu semua kesalahan saya. Oh well…..

—edit— saya sempat menanyakan soal ketidakstabilan pulsa yang sempat disebut salah satu operator di atas, dan si mas-mas customer service kekeuh ngotot bahwa hal itu tidak ada. Satu lagi yang mengherankan, di antara salah satu operator call service di atas, ada yang sempat menyatakan bahwa saya bisa lihat record pulsa saya selama 3 bulan terakhir di ‘pusat layanan tersebut’ , pada kenyataannya, saya tanyakan soal pulsa 9/10 November(karena itu pulsa terbesar yang hilang), mas – mas customer service menjawab TIDAK ADA DATA. Brilian sekali bukan?

Teman-teman yang membaca tulisan ini mungkin adalah sebagian teman-teman yang saya mention di twitter, yang mengalami hal yang sama dengan saya. Saya akan coba memaparkan kenapa itu jelas TIDAK MUNGKIN

1.Si Mas-mas bilang, bahwa kalau membuka link video yang diberikan, maka videonya akan langsung terbuka, di sini saya screengrab website waktu saya membuka ‘link video’

 

Lihat? Ada pilihan watch video, watch ini lah yang akan dikenai biaya streaming. Membuka linknya sih, sama saja dengan buka link biasa, kecuali anda ‘watch’ maka anda ‘streaming’

2.Si Mas-mas bilang, bahwa kalau saya membuka website dengan gambar bergerak atau ‘moving ads’ (dia sendiri yang mencontohkan: detik.com) maka kena charge biaya GPRS normal.

Sumpah, jawaban saya ketika dia menjelaskan ini adalah ‘ tahu mobile web Mas?

Apa anda melihat moving ads ? inilah tampilan detik.com mobile web. Browser kita yang pintar, walau anda masukkan link lengkap, akan membukanya secara mobile. Begitu pun dengan website sehari-hari, sudah ada yang memilah untuk mobile web!

Ngeles karena ini pembukaan link dengan m.detik.com? Baik, ini detik.com yang saya buka langsung:

Bandingkan dengan:

Yang saya lingkari adalah moving ads, dan baru bisa saya buka di PC bukan di HP!

3.Saya masih tidak bisa terima dengan alasan pulsa yang hilang sementara baterai sudah dicabut. Orang bodoh di seluruh dunia juga tahu, bahwa kalau baterai HP dicabut itu ya artinya nyawanya hilang, alias aplikasinya pasti ketutup semua. Ada ya aplikasi yang masih bisa ‘keep updating’ sementara baterainya dicabut?

4. Terakhir, kalau seandainya, link-link yang saya buka itu memang terkena biaya…..kenapa pulsa saya yang tinggal Rp 50, tidak berkurang sama sekali? Logikanya, kalau link tersebut memang kena biaya, seharusnya pulsa saya terus berkurang kan? Atau malah habis sama sekali dan saya tidak bisa buka link apa pun? Pada kenyataannya, saya tetap bisa buka semua link yang saya buka di hari saya kehilangan pulsa. Jadi apa penjelasannya?

Saya bukan mau cari masalah dengan menulis semua ini, tapi sungguh! Sudah berapa uang saya yang di’rampok’? Yang saya paparkan di atas adalah yang saya sadari, entahlah kalau sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi, karena saya memang sering menjumpai sisa Rp 50 selama ini, mungkin saya sendiri yang tak sadar.

Bila anda orang yang senasib dengan saya, kita harus berbuat sesuatu!

Bila anda tidak pernah mengalami, saya doakan jangan sampai anda mengalami.

Bila anda seorang yang berwenang yang membaca post saya ini, saya mohon, entah berapa ratus orang yang jadi korban seperti saya dan hitung, berapa juta atau bahkan ratusan juta yang hilang setiap harinya.

Salam hangat

Update: 15 Desember 2011, beberapa orang yang sengaja saya mention di twitter mengalami hal yang persis sama, tersedot pulsa terus menerus dan hanya ‘disisakan’ Rp 50,-….Dear all, jadi kita harus bagaimana?

Kalau anda senasib, tolong taruh nama anda di sini, seperti yang saya bilang di atas ‘we should do something’

Contek Mencontek

Percaya gak percaya, semua orang juga tahu bahwa yang namanya mencontek itu sudah membudaya di Indonesia sejak lama. Coba tanya diri anda, pernah nggak sih anda mencontek, pasti jawabannya pernah! Nggak peduli walau pun itu hanya sekali seumur hidup, tapi toh tetap saja pernah kan? Saya juga bukan orang suci, pernah pula mencontek, pernah pula menggantungkan nilai dan hidup dari contekan.

But there! I have reason! Sebal nggak sih rasanya kalau dirimu sudah belajar siang malam, menghapal dan menghitung semua rumus nan rumit dan tiba-tiba WHAMMM!! Si pencontek dapat nilai lebih tinggi darimu? Apalagi kalau hampir seisi kelas yng mencontek? Lalu yang lebih meyebalkan lagi, bagaimana kalau jawabanmu yang dijadikan sumber contekan, tak rela lah yaaaa~ Hal senada yang juga sama dirasakan oleh Putra Bu Siam. Sama, saya juga begitu, bedanya saya tak sampai melibatkan orang tua. Tapi saya juga pernah, diposisikan sedemikian rupa dalam satu kelas, agar menjadi sumber contekan. Rasanya? Dongkol. Capek capek saya belajar, orang lain yang memetik hasilnya.

Mau jujur? Coba lirik nilai batas UN itu (masih UN kah atau sudah ganti nama lagi?), sejak nilai itu dikeluarkan, budaya mencontek semakin meluas dan dianggap wajar. Tak tanggung tanggung, bahkan sampai guru pun terlibat. Alasannya? Mengurangi jumlah siswa yang tidak lulus. CIH. Meningkatkan nilai rata – rata sekolah. PUIH. Mengangkat nama sekolah. HOEK.

Saya mungkin orang yang cukup beruntung, karena saya merasa pilihan saya saat akan masuk SMA adalah keputusan saya yang palingtepat, sampai saat ini. Saya masuk ke SMA di mana mencontek diangggap tindakan paling hina. Perasaan saya? Bahagia luar biasa! Untuk pertama kalinya nilai saya adalah murni nilai saya dan nilai orang lain adalah milik mereka. Caranya? entah bagaimana, kakak kelas pasti tahu siapa saja yang mencontek di saat ulangan, dan dengan sistem hierarki yang kami anut, kakak kelas memang punya ‘hak’ untuk menghukum adik kelasnya. Akibatnya? Yang dihukum bukan cuma si ‘pelaku’ tapi juga teman sekelasnya. Percaya nggak percaya, ternyata cara ini ampuh. Banget!

Dengan menjadikan teman sendiri sebagai pengawas, pada akhirnya tidak ada satu pun dari kami yang mencontek. Tak jarang, bahkan hampir selalu guru-guru meninggalkan kelas kami saat ujian, bersantai di ruangan guru sambil ngupi-ngupi. Yang lucu, saat ada guru baru, kami diminta mengosongkan laci meja, lha kami bengong. Emang kenapa kalau ada kertas di laci meja? Tidak ada satu pun dari kami yang memikirkan kemungkinan mencontek. Lha, kami bahkan ujian sambil mendengarkan walkman saja nggak ada yang protes kok.

Sudah! Sudah ! lama-lama tulisan saya makin ngawur. Intinya, bisa tidak sih menghapus contek mencontek? Pasti bisa! Asal kita menjadikan itu suatu budaya, dan tidak menerima pembenarannya dalam bentuk apa pun. Omong Kosong? Buktinya saya dan teman-teman bisa! Kita bisa, kalau kita mau membudayakannya. Nah, sekarang, mau tidak?

Dalam hening

Aku mau teriak
Tapi udaraku disita
Suaraku disewa
Oleh mereka yang mengendarai para raja
Yang mengekang keempat kakinya
Lalu menghias kuku-kuku mereka dengan mirah delima dan permata

Aku ingin menangis
Tapi tenggorokanku tersekat
Airmataku tersendat
Lalu dadaku dihambat
Oleh lamat suara yang terdengar seluruh negeri dari dalam selubung

Aku ini kecewa
Galau dan risau yang hendak aku teriakkan pada dunia
Tapi langit menyalahkanku
Bumi mengejekku
Dan awan mencibir kepadaku

Dalam heningnya kabut
Dan kerlip lilin sekelebat
Aku bertanya
Apakah aku ada?

Album Lama

Saat kubuka album itu, terlihat kilasan memori usang hampir tak tersentuh dalam ingatanku. Usang, lelah, segarnya masih terngiang.

Ada tawa, ada canda, ada lelah dan air mata. Ada kasih sayang yang tertumpah ruah dalam setiap helainya.

Warna-warna yang mengingatkan aku akan setiap gelak tawa, setiap tetes air mata dan cucuran keringat kerja keras kita bersama-sama. Kata-kata yang tak lagi teringat tapi masih mematri setiap lekuk personaliti.

Kita tertawa teman, kita bahagia kawan. Kita berpeluh dalam setiap perjuangan kita, mengoyak setiap cibiran dan guyonan yang membaur dan mengaburkan ambisi kita.

Kita mengayunkan langkah, mencoba menggapai mimpi, meraih bintang yang bergelantungan nun di atas, bersinar terang, walau tak tahu bintang yang mana milik kita.

Dan sekarang aku di sini, berpijak di atas bumi. Aku masih menengadah menghadap ke arah si bintang. Bingung menentukan sinarnya. Aku menunduk, menghadap lamunan bayang-bayang, coba menangkap cerminan masa lampau.

Aku merindukan kalian, teman. Aku tak tahu apa kah mimpi-mimpi kita akan kembali. Atau kita telah memijak dataran di ujung pelangi?

Aku membalik album itu kembali. Senyum yang mengobati perih luka ku dan gelisah yang menguatkan setiap langkahku.

Aku, di sini, mencoba tetap berpijak pada dataran ini.

-FOR ALL FRIENDS, PARTICULARLY 2ND GENERATION OF TITIAN TERAS ACCELERATORS-

Quote this Day: Story

Story is what moves people’s heart -Abraham Lincoln

Cerita adalah sesuatu yang menggerakkan hati manusia -Abraham Lincoln

Quote ini adalah salah satu favorit saya, menunjukkan esensi yang sebenarnya dari apa yang dimaksud dengan cerita.

Pastinya kita pernah merasakan: setelah membaca sesuatu, ada keinginan yang muncul dari dalam diri kita. Entah itu keinginan untuk menjadi/tidak menjadi seperti cerita tersebut, atau bahkan ikut berkecimpung dalam dunia yang ada pada bacaan kita tersebut. Bila hal itu pernah terjadi, berbahagialah, karena sebenarnya anda telah pernah membaca cerita yang sejati.

“Moves people heart”, saya sangat suka dengan pemilihan kata-kata Lincoln. Hal ini menunjukkan bahwa suatu cerita harusnya bersifat humaniora, ia tidak hanya sekadar mengeser, tetapi benar-benar menggerakkan hati manusia. Ketika hati manusia tergerak, itu adalah saat-saat kesadaran merasuk ke dalam pikirannya, menciptakan suatu cakrawala baru.

Lalu, apa yang sebenarnya sering kita temukan saat ini?

Koran-koran kuning berisikan skandal artis ibukota atau hujat-menghujat antar pejabat? Apakah hal-hal seperti ini dapat disebut Cerita? Saya serahkan penilaiannya pada anda

Starting today: One Quote per Day

Hmm…I realize that I’ve not writing in this blog or a long time, here are the reasons:
1. I’m busy in completing my study
2. I’m forgetting my password
3. I workin’ (Yaiiy), but too much to do and too little time to completing it

Sooo..starting today Let’s discuss about a quote per day in this blog. Sometimes I’ll (probably) write article again, just enjoy it now!

Mimpi – Mimpi Angkutan Umum di Indonesia

Lagi-lagi saya curhat….

Kali ini saya benar-benar merasakan kebenaran kalimat “Inpirasi yang terbaik memang berasal dari pengalaman diri sendiri”. Setelah sekian lama saya tidak menulis (akibat kelelahan di dua stase terakhir…), akhirnya saya memutuskan menulis -baca: berbagi kisah- lagi.

Topik yang saya angkat kali ini sebenarnya ringan-ringan saja, sepele dan mungkin sudah terlalu sering kita rasakan: Masalah angkutan umum di Indonesia, terutama di Jakarta.

Tentunya, tidak seorang pun dari kita tidak pernah merasakan bagaimana rasanya naik angkutan umum, bahkan mungkin hampir setiap hari (pengecualian buat anda yang terlahir dalam keadaan amat sangat mampu, sehingga tidak pernah merasakan angkutan umum sama sekali -walau pun saya meragukan hal itu sebenarnya-), atau paling tidak…minimal anda melihat dan memperhatikan angkutan-angkutan umum tersebut.

Seandainya ini adalah ruang kelas dan Anda semua sebagai murid-muridnya, sementara saya menjadi sang guru yang berdiri di depan kelas, saya akan bertanya, “Siapa yang pernah kesal terhadap angkutan umum, tolong acungkan tangan!”. Maka saya yakin, hampir seluruh (atau mungkin benar-benar seluruhnya???) dari Anda, para pembaca, akan mengacungkan tangannya.

Berikut alasan yang mungkin mendasari perasaan kesal anda: WARNING!! Ini bukan daftar lengkap, jadi sah -sah saja kalau anda masih ingin menambah daftar ini:

1. Ngetem seenaknya

Entah dari mana istilah nge-tem ini datang (mungkin dari term??). Pengertiannya sendiri sudah jelas kan? Angkot-angkot atau bus yang berhenti seenaknya, di tempat yang bukan terminal untuk mengisi penumpang (memangnya botol pakai diisi??). Dampaknya? Bukan hanya penumpang yang lumutan menunggu diiringi keringat yang semakin membanjir (dan aroma yang semakin amboii menyeruak), penghuni jalan lain pun merasakan dampaknya. Lihat saja  antrean mobil di belakang sang angkutan yang sedang bersantai,,, semakin memanjang tentunya, apalagi posisi ngetem para angkutan biasanya bukan posisi anatomis sehingga mengurangi volume aliran jalan.

2. Angkutan umum yang tak layak jalan, kaca pecah dll

Pernah deg-degan ketika naik angkutan umum? Bukan karena telat masuk, tapi karena…busnya?? Saya sering! Terutama bus yang tiap pagi saya naiki, dengan asap hitam yang entah datangnya tiba-tiba dari mana….bau kabel agak-agak terbakar….kernet yang entah kenapa bolak balik ke belakang melulu (ke arah mesin maksudnya)…. Keadaan saya? Berdoa berulang-ulang semoga bus ini nggak kenapa-kenapa, soalnya kalau busnya mogok, takut dioper ke bus lain yang entah datangnya kapan.(That’s another problem)

Cerita lain: Setelah lega karena berhasil mendapat bus dengan kursi kosong di jam -jam macet, dengan tenang saya duduk di SATU-SATUNYA kursi kosong di bus itu. Setelah duduk manis, saya pun berniat memulai ritual rutin sore saya di bus: Tidur siang, dengan menyandarkan kepala ke jendela,,,,dan saya pun menoleh ke arah jendela dan OLALA!! Tahu apa yang saya lihat? Kaca yang penuh dengan goresan-goresan halus,,,hmm goresan?? mungkin lebih ke retak, tapi tanpa serpihan. Langsung terbayang seandainya kaca itu tiba-tiba pecah,,,,cukup untuk membuat bergidik. Langkah selanjutnya? batal tidur, gak berani lihat ke arah jendela sampai tujuan

3. Overload passengers

“Ke tengah dulu mbak, isi tengah, isi tengah! Itu masih bisa 3 baris, hayo mas geser ke tengah dulu. Mbak tasnya taro di depan dong, ngabisin tempat 2 orang tuh. Hayo Kosong! Kosong!”.

Yak, itu dia, teriakan favorit kernet , yang entah kenapa walau penumpang sudah berjubel dan ketek-ketek yang menggelayut di pegangan sudah saling bersinggungan tetap saja teriak-teriak kosong. Walau penumpang sudah bergelayut di pintu dan jadi pepes, dengan nelangsa harus manut geser juga (dan dengan sukses jadi lebih penyet, bukan pepes lagi) kalau si penguasa masih menaikkan penumpang  (hal ini jelas menumbuhkan niat pengen nendang sang kernet yang masih semangat teriak teriak “Kosong! Kosong” -Sorry). Jadi iseng ingin bertanya, definisi kosongnya para kernet itu kira-kira apa ya?? Kalau ada timbangan di jalan (kaya yang di pelabuhan itu lho…), kira-kira kelebihan bebannya berapa ya?? Sebagai salah satu sarden manusia tiap hari, saya jadi memandang pilu dan iri pada para pemilik mobil pribadi…salah satu alasan kenapa mobil pribadi jadi begitu populer di negeri ini (dan juga penyumbang terbesar penyebab kemacetan)

4. Potong jalan seenaknya

Nah, ini dia satu lagi komplain saya terutama untuk bus Jurusan Kampung Melayu-Grogol (karena saya nggak pernah merasakan hal ini bersama bus-bus lainnya, kalau angkot sih keseringan). Bus ini (cuma ada satu) punya hobi tak terbantahkan: Masuk tol! Yang dapat dimulai dari tol senayan atau slipi, Akibatnya??? Dengan sukses saya harus turun di slipi jaya, jalan lumayan ke rumah (masih lebih baik dari pada para penumpang tujuan palmerah, sementara bus masuk tol dari senayan) dijamin manjur buat mereka yang mengharapkan betis berisi macam kuli pasar.

5. Pengamen ‘sopan’

Cukup tentang angkutan umumnya. Selain sarana dan prasarana beserta kru yang sangat amboiii, angkutan umum, terutama bus kota punya bonus yang tak terbantahkan lagi! Para pengamen, yang dengan ‘sangat sopan‘ meminta uang setelah nyanyian yang entah kenapa malah membuat penumpang mau menyumpal mulutnya atau yang lebih “sopan” lagi dengan syair macam Indonesia Raya yang entah kenapa sama antar pengamen, “Saya benar-benar ingin cari uang dengan halal bapak ibu (3x), lebih baik saya mengamen daripada menodong bapak ibu (4x), apalah artinya uang 500, 1000 rupiah bapak ibu, tidak akan membuat anda jatuh miskin bapak ibu (min 3x)“. Tidak memberi dan si pengamen cuek? Bersyukurlah, karena tanggapan yang saya dan teman-teman dapatkan biasanya:“kirain beriman!, “masuk neraka Lo!”, “kasih nggak!”, atau yang setia menunggu sambil memperlihatkan lukanya di depan mata. Bahkan seorang ibu pernah dikejar, karena tidak seorang pun di bus itu memberi uang.

Semua cerita di atas adalah pengalaman saya, sama sekali tidak ditambah-tambahi, hanya berniat mengeluarkan unek-unek di hati. Oh ya, seperti yang telah saya tulis di atas, daftar ini bukan daftar lengkap, jadi sah-sah saja kalau anda ingin menambahkan pengalaman anda.

Bahasa Indonesia, Pembentukan dan Dilemanya

Sesuai dengan Sumpah Pemuda yang diikrarkan 28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Terlihat sepele kan? Tapi sebenarnya bila ditelaah lebih lanjut, kita dapat  menemukan pesan tersirat dari poin ketiga ini. Simak baik – baik bunyi Sumpah Pemuda yang diikrarkan waktu itu:

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Terlihat jelas bahwa dua poin di atas menjadi landasan dan fondasi persatuan indonesia, dengan jelas – jelas menyatakan “Mengaku” dan “satu“. Sementara poin ketiga menyiratkan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, namun tidak memaksa bahwa bahasa Indonesia harus menjadi satu – satunya bahasa di Indonesia. Hal ini tercermin dari kata – kata “Menjunjung” dan “Bahasa Persatuan“, yang menyiratkan bahwa Bahasa Indonesia haruslah dihormati dan juga sebagai salah satu sarana persatuan Indonesia.

Ada cerita menarik dalam Kongres Pemoeda ini. Rumusan ini sebenarnya telah dicetuskan oleh Mohammad Yamin dalam kongres yang sama pada tahun 1926, hanya saja terdapat perbedaan pada poin ketiga yang berbunyi:  KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA MELAJOE. Tapi rancangan ini ditolak dan pada akhirnya disetujui pada kongres berikutnya dalam bentuk yang kita kenal sekarang. Seperti yang kita ketahui, bahasa Indonesia sekarang memang berfondasi pada bahasa Melayu, namun sebenarnya dalam Kongres tahun 1928 muncul dua kandidat bahasa yang diajukan  yaitu Bahasa Jawa dan Melayu. Ada pun pemilihan kedua calon bahasa ini didasarkan pada jumlah penggunanya di seluruh Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda). Setelah pertimbangan yang dipenuhi debat dari masing – masing anggota, maka diputuskan bahwa Bahasa Melayu akan menjadi dasar bahasa persatuan. Ada pun alasan pemilihan ini adalah bahasa Jawa dinilai terlalu berat dan sulit berkembang (karena telah memiliki pakemnya sendiri), maka bahasa melayu yang cenderung lebih bebas dan masih dapat berkembang dipilih sebagai landasan bahasa Indonesia. Ada pun penamaan bahasa persatuan sebagai bahasa Indonesia dan bukannya bahasa melayu adalah upaya untuk tidak menonjolkan hanya satu etnis tertentu saja (dari sini saja kita sudah melihat konsep persatuan yang sangat apik dari para pelopor).

Beralih ke masa sekarang, bagaimana perkembangan bahasa Indonesia?

Saya bilang dilema.

Pemilihan bahasa melayu agar bahasa Indonesia dapat terus berkembang, ujung – ujungnya malah menciptakan munculnya kata – kata serapan yang terlalu banyak. Jumlah kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terus menerus bertambah, KBBI III memuat 78.000 kata, sementara KBBI IV lebih dari 90.000 kata! Sayangnya sebagian besar kata – kata baru yang dicantumkan ini adalah kata – kata serapan, terutama kata – kata Inggris yang diindonesiakan macam justification menjadi justifikasi, belum lagi kata – kata serapan yang berasal dari bidang ilmu dan teknologi..tidak dapat dibayangkan mengapa memaksakan kata – kata ini menjadi bahasa Indonesia dan kenapa tidak mencari saja padanannya dalam bahasa Indonesia? Justifikasi misalnya, mengapa tidak memakai kata pertimbangan? Untuk kata – kata di bidang ilmu dan teknologi, bukankah bisa saja memakai dalam bentuk bahasa aslinya, tetapi dibedakan font-nya?(seperti yang saya lakukan di samping). Terus terang walau beberapa ahli menilai hal ini meningkatkan dan memperkaya kosakata Bahasa Indonesia, tetap hal ini juga menipiskan karakter bahasa Indonesia. Dilemanya, perlukah kebebasan seperti ini diteruskan?

Dilema lainnya adalah penggunaan bahasa Indonesia sendiri. Sesuai sumpah Pemuda di atas, bahasa Indonesia dijunjung sebagai bahasa Persatuan. Artinya tidak terdapat paksaan dalam penggunaan bahasa Indonesia, masing – masing daerah dapat tetap  menggunakan bahasa Ibunya dengan tidak menyingkirkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dilemanya, kebebasan seperti ini memang memberikan ruangan yang lebih bebas bagi pengguna bahasa terutama di daerah tetapi…apa jadinya bila sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia? Dari mana letak menjunjung bahasa persatuan itu?

Satu hal lagi yang saya tandai, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bahkan masih terbatas dalam lingkungan akademisi. Sedikit cerita kenapa saya beranggapan demikian:

Salah satu pengalaman yang saya ingat adalah ketika seorang teman yang sedang bersukaria mendapatkan nilai tinggi dalam sidang kelulusannya (red.teman saya ini berbeda jurusan dan universitas dengan saya). Dengan sangat bersemangat ia menunjukkan kopi skripsinya kepada saya, dan dengan bersemangat pula saya membaca skripsinya tersebut karena kebetulan berkaitan dengan topik yang saya geluti. Rasa menggebu – gebu saya langsung pudar sejak halaman pertama. Betapa tidak, sejak halaman pertama saya langsung pusing dengan penggunaan kalimat yang berputar – putar, tidak langsung pada tujuan (bahasa keren yang sering dipakai: not to the point); penulisan di sebagai kata depan dan sebagai awalan yang terbalik – balik (contoh dirumah, di diamkan); penggunaan kata ganti orang yang terlalu banyak atau tidak tepat dalam satu kalimat (misalnya: Bapak itu memanggil saya, bapak itu akhirnya bersedia diwawancara- kenapa tidak menggunakan kata ganti ia sebagai pengganti kata bapak kedua?-); penulisan imbuhan yang tidak tepat (misalnya: mencampur adukkan -seharusnya mencampuradukkan-) dan masih banyak lagi yang sulit saya ungkapkan di sini.

Jujur saya kecewa, bagaimana mungkin makalah yang penuh dengan kesalahan (setidaknya menurut saya) seperti ini bisa mendapatkan nilai tinggi? Saya sering mendengar teman – teman yang mengeluhkan pembimbingnya terlalu ketat, telalu kaku, tapi apakah penulisan dengan gaya seperti ini sendiri menjadi benar? Terus terang, saya tidak setuju dengan pemberian nilai tinggi untuk skripsi seperti milik teman saya itu, terutama dengan gaya bahasa yang menurut saya terkesan “gaul”, tidak mencerminkan semangat keilmiahan seorang akademisi adalah kelemahan terbesar. pemberi nilai pun  jadi perlu dipertanyakan, apa dasar pertimbangan pemberian nilai bila penyampaiannya saja sudah memiliki banyak kelemahan? Menurut saya, saat kita mengerjakan skripsi atau makalah atau  apa pun itu, maka sebenarnya kita sedang dididik untuk menjelaskan sesuatu secara ilmiah, dan skripsi atau makalah adalah pembuktian kita, tidak hanya sekadar menyalin buku atau bahkan menjiplak skripsi milik orang lain.

Saya akui, banyak kelemahan dalam posting-an saya, karena saya sendiri bukan pengguna bahasa Indonesia yang patuh. Tapi sangat penting bagi kita, generasi Indonesia zaman sekarang untuk meneruskan dan menegakkan cita – cita sumpah pemuda, terutama poin ketiga yang sudah saya bahas di sini. Melalui posting-an ini saya mengajak anda semua untuk terus menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakannnya dengan baik dan benar. Bila tak dapat sempurna maka kita dapat terus belajar, tetapi mengulangi kesalahan yang sama terus menerus bukanlah tindakan yang bijaksana bukan?

Sekian posting-an saya kali ini. Semoga dapat membuka sendikit cakrawala pemikiran.

Terima kasih

berikut beberapa link yang dapat menjadi bahan pemikiran lebih lanjut

Kata serapan

Kesalahan penulisan  dalam bahasa Indonesia

Kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan skripsi

Regards: Reglest

Profesionalitas..di mana kau berada?

Posting kali ini membahas mengenai profesionalitas yang rasanya masih amat sangat minim di negara kita (minimal dari penilaian saya)

Kenapa tiba – tiba membahas mengenai profesionalitas? Begini ceritanya…

Alkisah suatu hari seorang koass cewek sedang jaga IGD suatu Rumah sakit pusat yang selalu ramai (dan hampir nggak pernah sepi). Seperti biasa, si Koass disuruh ini itu oleh sang residen (mulai dari menerima pasien baru, anamnesis sampai mengukur ulang tekanan darah seluruh pasien), ya sudahlah..si Koass sabar – sabar saja, lantaran hitung – hitung para residen itu adalah seniornya (sambil berharap bahwa para residen akan memberikan secarik ilmu tentunya). Jam 7 sore, jumlah pasien membeludak! Mencapai 20 orang! Semua residen sibuk, banyak pasien yang berada dalam kondisi gawat, si Koass yang jaga sendirian merasa tidak enak mengganggu para residen, maka Ia pun terpaksa lari kesana kemari menerima pasien baru, menganamnesis dan melaporkan pasien tersebut pada residen. Sampai suatu ketika,

Keluarga Pasien: Sus, pasangin infusnya dong [menarik lengan Koass]
Koass: …..[mencari - cari kanul oksigen untuk pasien sesak di dalam ruangan, sambil melirik meja depan yang kedatangan pasien lagi]
Keluarga pasien: Nih!  [Menyodorkan abbocath dan kolf]
Koass: [berhenti mencari kanul] Maaf bu, saya sekarang sedang sibuk…[berusaha berbicara sesopan mungkin], Ibu boleh minta tolong sama susternya nggak? Itu yang pakai baju Orange, soalnya saya sedang mencari alat untuk oksigen untuk pasien sesak yang itu….[sambil menunjuk suster berbaju orange yang sedang duduk - duduk di dalam ruangan]
Keluarga Pasien: Oh..iya..iya.[mengangguk - angguk], maaf ya mengganggu, makasih ya DOK
Suster: Kenapa harus nyuruh suster segala sih [ngomel sambil lewat, tepat di depan si koass]
Koass:….[bengong]

Si Koass pun duduk setelah menemukan kanul oksigen sambil menganamnesis pasien – pasien baru, tiba – tiba…
Suster: Kalau cuma mau pasang infus, nggak usah suruh – suruh suster dong! [membentak]
Koass: …[bengong], Oh maaf mbak, pasien barunya banyak, saya kan harus anamne…[terpotong]
Suster: Alah..alasan! Dasar kamu aja yang males! [Meninggalkan koass yang dipandangi seluruh pasien di depan]

Nah, pertanyaannya..salah nggak sih si Koass? Apa emang tugasnya si Koass jadi babu [termasuk babu para suster]? Oh ya, sekedar tambahan..jam 10 malam di rumah sakit itu, malam itu semua susternya menghilang semua! jadilah si Koass luntang lantung mengurusi semua pasien dan notabene nggak tidur sama sekali padahal besok si Koass harus presentasi dan tugas di IGD lagi…

Yah..oke..saya mengaku..sayalah koass itu (kalau tidak mana mungkin saya bisa menceritakannya sedetail itu?) dan terus terang saya amat sangat sebal sekali dengan suster itu, lantaran dia sama sekali tidak memiliki etos kerja profesionalisme dalam dirinya. Kenapa saya berani mengatakan demikian? Dari cerita diatas, jelas saya tidak melihat adanya profesionalitas sang suster. Okelah dia “mungkin” jauh lebih kompeten daripada saya dalam melakukan tindakan. Tapi..astaga! Penolakannya terhadap apa yang seharusnya ia lakukan (dalam hal ini memasang infus) padahal ia bisa dan memiliki waktu untuk melakukannya, adalah suatu tanda bahwa ia tidak memiliki profesionalitas dalam dirinya.

Maka, apakah sebenarnya profesionalitas itu? Tadinya saya mencari dalam KBBI, tapi makna yang ada tidak memuaskan saya, hanya “bekerja secara profesional”. Setelah browsing sana sini, akhirnya saya menemukan makna yang cukup memuaskan saya, ” Profesionalisme adalah kemampuan seseorang dalam menempatkan dirinya sesuai dengan tupoksinya (tugas pokok dan fungsinya)”. Dengan kata lain orang yang profesional berarti orang yang paham betul akan profesinya (tugas dan fungsi kerjanya), memiliki kinerja tinggi terhadap tugas tersebut dan mampu menyelesaikannnya dengan baik. Dan jelas sang suster sudah mengabaikan hal-hal ini, apalagi dengan tindakannya menghilang dari jam 10 malam…padahal dia sudah jelas – jelas dibayar untuk jaga malam. Bandingkan dengan para residen dan koass yang terus berjaga sampai pagi, tanpa dibayar, plus dimarahi pula oleh konsulen bila melakukan kesalahan. ..mana yang lebih profesional?

Maka jangan salahkan saya ketika saya tertawa saat perawat-perawat itu mencak – mencak meminta agar perawat diberi izin berpraktek, wong pada kenyataannya seperti itulah mereka di lapanga. Apalagi perawat – perawat di rumah sakit Negeri, biasanya sudah merasa tidak punya tanggung jawab lagi dan cenderung melemparkan semuanya ke koass dan residen (dan menjelek – jelekkan kami di depan kepala ruangan). Maka sekarang saya bertanya, siapa yang profesional di sini?

Peristiwa di atas hanyalah suatu trigger, suatu trigger yang membuat saya selalu bermimpi: Alangkah majunya Indonesia seandainya profesionalitas itu benar – benar dijunjung, sekecil apa pun peran kita di dalamnya. Seandainya para guru profesional dalam mendidik murid – muridnya, benar – benar mencurahkan seluruh jiwa agar muridnya menjadi sesuatu yang berguna, membuka pikirannya untuk hal – hal yang baru dan bukannya membuat mindset bahwa muridnya harus lulus sampai memberikan contekan pada mereka. Seandainya para petugas pembayaran profesional, maka tidak ada lagi penyogokan dan waktu yang terbuang sia – sia. Seandainya para penegak hukum profesional dan tak hanya mengejar uang, maka hukum akan berdiri dengan indahnya. Seandainya para petugas kesehatan serius melakoni pekerjaannya, maka tak ada penyakit yang terlewatkan dan disepelekan…

yah, semua itu masih seandainya. Kalau saya sih masih bermimpi, Anda?

Indonesia versus Malaysia

This post is full of emotion, I just want to express my emotion here..so.. no offense! (but still, I love my country, and I’m proud of it!). I would not mention them as malingsia, malingsial or malingshit just like others, I love my country and I don’t like when people despise it or play with it’s name (like them usually call us Indonesial, Indon? I don’t deserve this name, since My country is only One, Indonesia!). Maybe just give them some matter to think, don’t call others with name they don’t like!

Yak! Topik yang satu ini akhirnya saya post juga…

Agak ragu2 sebenarnya, karena jujur saja, teman saya sendiri ada yang orang Malaysia, Paman dan sepupu – sepupu saya juga bekerja dan bersekolah di negeri Jiran itu, tapi karena sudah terlalu gemas (sampai rasanya ingin meremas – remas pemerintah Malaysia…) akhirnya saya buat juga postingan ini

Isu Indonesia versus Malaysia sebenarnya sudah ada dari tahun 80-an, hanya saja karena saat itu Presiden Indonesia masih Soeharto (dan PM Malaysia masih Mahatir Muhammad), maka masalah ini tidak menjadi besar. Saya sendiri sudah lupa apa nama pulau yang menjadi bahan sengketa waktu itu, hal ini pernah dimuat di salah satu majalah lama (nan jadul) saat saya masih duduk di bangku SD. Saya sudah mencoba browsing di internet, tapi nama pulau itu belum juga saya dapatkan, akhirnya saya putuskan posting tanpa menyebutkan nama pulau tersebut.

Berhubungan dengan masalah pulau atau apa pun yang berkaitan dengan batas negara, saya akui mungkin memang bukan kapabilitas saya untuk berkomentar (walau pun jujur, saya tidak setuju daerah – daerah tersebut diklaim itu sebagai bagian Malaysia). Walau pun seorang awam seperti saya juga dapat menilai bahwa klaim tersebut konyol. Kenapa konyol? Karena daerah daerah tersebut dimasukkan ke dalam area negara mereka dengan perhitungan Malaysia sebagai negara kepulauan. Di sini lah letak kekonyolannya, dari pelajaran SD pun sudah jelas bahwa Malaysia (dan sebagian besar negaranya) berada di semenanjung Malaya yang notabene bagian dari benua Asia. Hanya setengahnya yang ada di pulau (itu pun di kalimantan), tentu saja tidak bisa dihitung sebagai negara kepulauan

Yang lebih konyol lagi adalah mengenai lagu – lagu dan budaya kita yang di”embat” dan diaku-aku oleh mereka! Rasanya benar – benar ingin tertawa ngakak sekaligus membuat tangan gatal! (pengen nabok maksudnya),

Budaya kita banyak yang dipromosikan sebagai budaya mereka, macam rasa sayange, lagu Ambon ini mereka nyatakan berasal dari semenanjung Malaya..aduh… padahal dari liriknya saja sudah terlihat bahwa tidak ada aksen malaysianya sama sekali (hanya karena kata – kata sayange? Itu pun tidak jelas), Batik -walah..kalau memang batik itu dari Malaysia, kenapa bisa ada batik pekalongan, yogya dan sebagainya ya…hahaha), Reog Ponorogo (Memangnya di malaysia ada daerah yang namanya Ponorogo ya…weits..baru tahu saya..hahaha) sekarang yang heboh malah lagu kebangsaan..walah!!! Kurang tahu juga ini benar atau tidak tapi yang jelas isu ini benar-benar menunjukkan “how pity they are…”, Karena walau pun -seandainya- mereka tidak menjiplak, tapi akibat keseringan berminat ngembat, sepertinya mereka bakal sulit dipercaya lagi. Yang lebih konyol lagi adalah reaksinya pemerintah Malaysia selepas isu lagu Teran Bulan tersebut, Dirgahayunya Malysia yang biasanya diadakan besar-besaran tiba-tiba diadakan secara sunyi (O~O), dan malah menghindar dari wartawan..walah..walah..makin curiga kan jadinya?

Cukup mengomentari tetangga sebelah, sekarang tanya ke pemerintah (dan kita sendiri). Sudahkah kita menjaga nasionalisme kita sendiri? Untuk pemerintah, skalanya tentu harus lebih besar ya..minimal  mempatenkan budaya kita dan promosi besar – besaran (promosi betulan! bukan ecek – ecek macam Visit Indonesia) tentang kesenian kita dan segala budaya milik kita. Untuk kita sebagai warga biasa, hayuk, jangan ikuti budaya barat melulu, ayo kembali ke budaya kita, sekedar menghargai atau pakai produk dalam negeri. Kalau jalan – jalan, nggak usah melulu ke luar negeri lah…cek deh tempat – tempat cantik di negara kita. Masih banyak kok tempat – tempat yang bisa kita kunjungi (dan tentunya dengan harga lebih murah dan tanpa perlu mengurus visa atau paspor pula)

And here comes the trigger of this post:

Lagu Indonesia Raya yang diplesetin (bikin naik darah!!!), Sebenarnya pengen muntah waktu nge-paste ke sini tapi saya paste juga agar semua orang mengerti kenapa amarah saya meledak

IndonSIAL wrote:

Indonesial tanah cairku
Tanah tumpah muntahku
Disanalah aku merangkak hina jadi kubur
Indonesial negara miskin ku
Bangsa Busuk dan Tanah Miskinku
Marilah kita semua tidur
Indonesial negara miskinku

Mati lah tanahku
Modar lah negriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Miskin lah jiwanya
Tidurlah badannya
Untuk Indonesial miskin

Indonesial Miskin
Mampus modar
Datang kerja Malaysia
Tapi TKI Jadi perampok
Rompak Malaysia bawa wang ke Indon
Indonesial Pendatang Haram
Miskin lah miskin lah
Datang Haram ke Malaysia
Tiada paspor
Bila kena tangkap dan hantar balik
Kata nya Malaysia jahat

Indonesial negara perampok
Indonesial menghantar perampok maling
Pekerja TKI Indonesial
Hantaq pi Malaysia
Indonesial Maling
Merampok lagu Malaysia
Mengatakan itu lagu mereka

Indonesial Tanah yang hina
Tanah gersang yang miskin
Di sanalah aku miskin untuk selama-lamanya
Indonesial Tanah puaka
Puaka Hantu Kita semuanya
Negara luas hasil bumi banyak tapi miskin
Datang minta sedekah di Malaysia
Marilah kita mendoa Indonesial brengset

Gersang lah tanahnya mundurlah jiwanya
Bangsanya rakyatnya semuanya
Tidurlah hatinya mimpilah budinya
Untuk Indonesial miskin
Indonesial tanah yang kotor tanah kita yang malang
Disanalah aku tidur selamanya bermimpi sampai mati
Indonesial! Tanah malang tanah yang aku sendiri benci

Marilah kita berjanji Indonesial miskin
Mati lah rakyatnya modar lah putranya
Negara miskin tentera coma pakai basikal
Miskinlah negrinya mundur lah negara nya
Untuk Indonesial kurap
(rah)

Tapi ada juga trigger yang sedikit meng”adem”kan suasana hati: Mantap!!!
Balasannya Saykoji tentang liriknya yang dicolong sama Rapper Malaysia, bisa cek videonya disini:
copy my style (again)

Saya baru saja membalas omongan di forum Malaysia yang mendoakan hal – hal jelek tentang Indonesia, (posting-an ini setelah gempa Tasik) jadi masih agak emosi. Semoga saja doa itu nggak terjadi, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Indonesia (seperti Aceh yang sekarang memiliki pendeteksi gempa terbaik saatini), aku berharap ini akan memicu kita untuk menjadi lebih baik.

INDONESIA!  HIDUP!!!

HIDUP DEMOKRASI!!!

HIDUP PANCASILA!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.